Makalah Biologi : Hukum Mendel
BIOLOGI
HUKUM
MENDEL

Disusun
Oleh :
Kelompok 7
1.
Sandra Puspita Ningrum (1913038)
2.
Ratri Eka Pratiwi (1913035)
3.
Renia Wulandari (1913037)
4.
Ramadhan Tri Sasongko (1913034)
5.
Regi Aditia Anggara (1913036)
Kelas : 1 A
Dosen :
Fina Amalia, S.Kep., Ns
AKADEMI
KEPERAWATAN “YKY” YOGYAKARTA
Tahun 2013
YOGYAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Hukum pewarisan
Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan
oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya 'Percobaan mengenai Persilangan
Tanaman'. Hukum ini terdiri dari dua bagian:
Hukum pemisahan
(segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Pertama Mendel, dan Hukum
berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel, juga dikenal
sebagai Hukum Kedua Mendel.
Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan
sifat pada organisme, yang kita kenal dengan hukum segregasi dan hukum asortasi
bebas, yang telah di jabarkan oleh Gregor Johann Mendel . Mendel
mengatakan bahwa pada pembentukan gamet (sel kelamin), kedua gen induk (Parent)
yang merupakan pasangan alel akan memisah sehingga tiap-tiap gamet menerima
satu gen dari induknya sebagaimana bunyi hukum mendel I, dan bunyi hukum mendel
II, menyatakan bahwa bila dua individu mempunyai dua pasang atau lebih sifat,
maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas, tidak bergantung pada pasangan
sifat yang lain.
2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.
Apa latar belakang teori mendel?
2.
Apa bunyi hukum mendel I?
3.
Apa bunyi hukum mendel II?
4.
Apa teori pewarisan sifat?
5.
Apa saja percobaan mendel?
3.
Tujuan
a.
Tujuan umum
Tujuan umum dari penulisan
makalah ini untuk melengkapi tugas dari mata kuliah Biologi.
b.
Tujuan Khusus
1.
Agar mahasiswa mengetahui latar belakang teori mendel.
2.
Agar mahasiswa mengetahui hukum mendel I.
3.
Agar mahasiswa mengetahui hukum mendel II.
4.
Agar mahasiswa mengetahui teori pewarisan sifat.
5.
Agar mahasiswa mengetahui percobaan mendel.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Latar Belakang Teori Mendel
Genetika adalah ilmu yang mempelajari pewarisan sifat dari
induk kepada keturunannya. Gregor Johann
mendel (1822-1884), seorang biarawan disebuah biara di Brunn, Austria
menyilangkan kacang ercis (Pisum sativum),
kemudian hasil persilangan ditanam dan di amati, mendel melakukannya selama 12
tahun.
Alasan Mendel memilih kacang ercis sebagai bahan percobaan
adalah :
a.
Memiliki pasangan sifat beda yang mencolok
b.
Melakukan penyerbukan sendiri
c.
Mudah dilakukan penyerbukan silang
d.
Waktu yang diperlukan untuk menghasilkan keturunan cepat
e.
Mempunyai keturunan banyak
Langkah awal sebelum dilakukan perhitungan terhadap pengamatannya
adalah menentukan galur murni jenis tanaman yang dijadikan percobaan. Tanaman
galur murni adalah tanaman yang apabila dilakukan penyerbukan sendiri akan
menghasilkan keturunan yang semuanya mempunyai sifat yang sama dengan induknya.
Dalam percobaannya Mendel melakukan perkawinan silang dengan menyerbukkan
sendiri antara dua varietas ercis yang berbeda sebagai induk-induknya. Turunan
hasil perkawinan silang ini disebut hybrid, sedangkan prosesnya hibridisasi.
Dari hasil percobaan yang diperolehnya, Mendel menyusun
beberapa hipotesis, yaitu :
a.
Setiap sifat pada organisme dikendalikan oleh satu pasang
factor keturunan, satu dari induk jantan dan satu induk betina.
b.
Setiap pasang factor keturunan menunjukkan bentuk alternative
sesamanya, misalnya tinggi atau rendah, bulat atau keriput, kuning atau hijau.
Kedua bentuk alternative ini disebut alel.
c.
Bila pasangan factor itu terdapat bersama-sama dalam satu
tanaman, factor dominasi akan menutup factor resesif.
d.
Pada waktu pembentukan gamet, pasangan factor atau
masing-masing alel akan memisah secara bebas.
e.
Individu murni mempunyai alel sama, yaitu dominan saja atau
resesif saja.
2.
Hukum Mendel I
Hukum Mendel I dikenal juga dengan Hukum Segregasi menyatakan:
‘pada pembentukan gamet kedua gen yang merupakan pasangan akan dipisahkan
dalam dua sel anak’. Hukum ini berlaku untuk persilangan monohibrid
(persilangan dengan satu sifat beda).
Secara garis besar, hukum ini
mencakup tiga pokok:
a.
Gen
memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter turunannya.
Ini adalah konsep mengenai dua macam alel; alel resisif (tidak selalu nampak
dari luar, dinyatakan dengan huruf kecil, misalnya w dalam gambar), dan alel
dominan (nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf besar, misalnya R).
Gen
memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter turunannya.
Ini adalah konsep mengenai dua macam alel; alel resisif (tidak selalu nampak
dari luar, dinyatakan dengan huruf kecil, misalnya w dalam gambar), dan alel
dominan (nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf besar, misalnya R).
b.
Setiap individu membawa
sepasang gen, satu dari tetua jantan (misalnya ww dalam gambar di samping) dan
satu dari tetua betina (misalnya RR dalam gambar di samping).
c.
Jika sepasang gen
ini merupakan dua alel yang berbeda, alel dominan akan selalu terekspresikan
(nampak secara visual dari luar). Alel resesif yang tidak selalu
terekspresikan, tetap akan diwariskan pada gamet yang dibentuk pada turunannya.
3.
Hukum Mendel II
Hukum Mendell II dikenal dengan Hukum Independent
Assortment, menyatakan: ‘bila dua individu berbeda satu dengan yang lain dalam
dua pasang sifat atau lebih, maka diturunkannya sifat yang sepasang itu tidak
bergantung pada sifat pasangan lainnya’. Hukum ini berlaku untuk persilangan dihibrid (dua sifat
beda) atau lebih.
Seperti
nampak pada gambar 1, induk jantan (tingkat 1) mempunyai genotipe ww (secara
fenotipe berwarna putih), dan induk betina mempunyai genotipe RR (secara
fenotipe berwarna merah). Keturunan pertama (tingkat 2 pada gambar) merupakan
persilangan dari genotipe induk jantan dan induk betinanya, sehingga membentuk
4 individu baru (semuanya bergenotipe wR).Selanjutnya, persilangan/perkawinan
dari keturuan pertama ini akan membentuk indidividu pada keturunan berikutnya
(tingkat 3 pada gambar) dengan gamet R dan w pada sisi kiri (induk jantan
tingkat 2) dan gamet R dan w pada baris atas (induk betina tingkat 2).
Kombinasi gamet-gamet ini akan membentuk 4 kemungkinan individu seperti nampak
pada papan catur pada tingkat 3 dengan genotipe: RR, Rw, Rw, dan ww. Jadi pada
tingkat 3 ini perbandingan genotipe RR , (berwarna merah) Rw (juga berwarna
merah) dan ww (berwarna putih) adalah 1:2:1. Secara fenotipe perbandingan
individu merah dan individu putih adalah 3:1.
Kalau
contoh pada gambar 1 merupakan kombinasi dari induk dengan satu sifat dominan
(berupa warna), maka contoh ke-2 menggambarkan induk-induk dengan 2 macam sifat
dominan: bentuk buntut dan warna kulit. Persilangan dari induk dengan satu
sifat dominan disebut monohibrid, sedang persilangan dari induk-induk dengan
dua sifat dominan dikenal sebagai dihibrid, dan seterusnya.
Pada gambar 2,
sifat dominannya adalah bentuk buntut (pendek dengan genotipe SS dan panjang
dengan genotipe ss) serta warna kulit (putih dengan genotipe bb dan coklat
dengan genotipe BB). Gamet induk jantan yang terbentuk adalah Sb dan Sb,
sementara gamet induk betinanya adalah sB dan sB (nampak pada huruf di bawah
kotak). Lihat ganbar 2
Kombinasi gamet ini
akan membentuk 4 individu pada tingkat F1 dengan genotipe SsBb (semua sama).
Jika keturunan F1 ini kemudian dikawinkan lagi, maka akan membentuk individu
keturunan F2. Gamet F1nya nampak pada sisi kiri dan baris atas pada papan
catur. Hasil individu yang terbentuk pada tingkat F2 mempunyai 16 macam
kemungkinan dengan 2 bentuk buntut: pendek (jika genotipenya SS atau Ss) dan
panjang (jika genotipenya ss); dan 2 macam warna kulit: coklat (jika
genotipenya BB atau Bb) dan putih (jika genotipenya bb).
Perbandingan hasil
warna coklat:putih adalah 12:4, sedang perbandingan hasil bentuk buntut
pendek:panjang adalah 12:4. Perbandingan detail mengenai genotipe SSBB:SSBb:SsBB:SsBb:SSbb:Ssbb:ssBB:ssBb: ssbb
adalah 1:2:2:4:1:2:1:2:1
4.
Teori Pewarisan Sifat
Pewarisan sifat atau yang dikenal dengan Hereditas merupakan
suatu pewarisan sifat dari induk kepada keturunannya. Ilmu yang mempelajari tentang
pewarisan sifat disebut dengan genetika. Pewarisan sifat itu dapat ditentukan
oleh kromosom dan gen. Teori-teori tentang pewarisan sifat adalah sebagai berikut :
1.
Teori Embryo
Teori ini dikemukanan oleh
William Harvey, 1578-1657 yang menyatakan, bahwa semua hewan berasal dari
telur. Pernyataan ini diperkuat oleh Reiner de Graaf (1641-1673) peneliti
pertama yang mengenal bersatunya sel sperma dengan sel telur yang akan
membentuk embrio. Reiner de Graaf menyatakan bahwa ovarium pada burung sama
dengan ovarium pada kelinci.
2.
Teori Preformasi
Teori ini dikemukakan oleh
Jan Swammerdan, 1637-1689 yang menyatakan bahwa telur mengandung semua generasi
yang akan dating sebagai miniature yang telah terbentuk sebelumnnya.
3.
Teori Epigenesis Embriologi
Teori ini dikemukakan oleh
C.F. Wolf, 1738-1794, yang menyatakan bahwa ada kekuatan vital dalam benih
organiseme dengan kekuatan ini menyebabkan pertumbuhan embrio menurut pola
perkembangan sebelumnya.
4.
Teori Plasma Nutfah
Teori ini dikemukakan oleh
J. B. Lamarck, 1744-1829 yang menyatakan bahwa sifat yang terjadi karena
rangsangan dari luar (lingkungan) terhadap struktur fungsi organ yang
diturunkan pada generasi berikutnya.
5.
Teori Pengenesis
Teori ini dikemukakan oleh
C. R. Darwin, yang menyatakan bahwa setiap bagian tubuh dewasa menghasilkan
benih-benih kecil yang disebut gemuia.
6.
Teori Telegani
Teori ini dikemukakan oleh
Ernest Haeckel, menyatakan bahwa spermatozoa sebagian besar tersusun atas inti
dan inti bertanggung jawab sebagai penurunan sifat.
5.
Percobaan Mendel
1.
Persilangan
Dua Individu dengan Satu Sifat Beda
a.
Persilangan
Monohibrid Dominan Penuh
Persilangan dua individu dengan satu sifat beda
menurun kan sifat dominan apabila sifat keturunannya sama dengan
salah satu sifat induknya.
Perhatikan contoh persilangan
berikut. Contoh: Tanaman kacang ercis berbatang tinggi disilangkan dengan
kacang ercis berbatang pendek. F1 semuanya berbatang tinggi. Kemudian F1
dibiarkan melakukan penyerbukan sendiri . Hasil yang diperoleh yaitu F2 yang
berbatang tinggi dan berbatang pendek dengan perbandingan 3 : 1. Persilangan
ini dapat dilihat dalam bagan berikut :
|
Parental 1 (P1)
|
Kacang
ercis Batang Tinggi
|
><
|
Kacang
ercis Batang Pendek
|
|
Genotipe
|
T
T
|
><
|
t
t
|
|
Fenotipe
|
Tinggi
|
|
Pendek
|
|
Gamet
|
T
dan T
|
|
t
dan t
|
|
Filial
(F1)
|
T
t
|
Fenotipe
: Batang Tinggi
|
|
|
Parental
2 (P2)
|
Kacang
ercis Batang Tinggi
|
><
|
Kacang
ercis Batang Tinggi
|
|
Genotipe
|
T t
|
|
T t
|
|
Gamet
|
T
dan t
|
><
|
T
dan t
|
Kemungkinan kombinasi pada F2 adalah sebagai berikut :
|
Gamet
Gamet
|
T
|
t
|
|
T
|
TT
(Tinggi) .1
|
Tt
(Tinggi) .2
|
|
T
|
Tt (Tinggi) .3
|
Tt
(pendek) .4
|
Pada persilangan ini , gen untuk faktor Tinggi (T) dominan
terhadap gen untuk faktor pendek (t). Maka Individu bergenotipe Tt (no. 2 dan
3) akan memiliki fenotipe tinggi. Perbandingan fenotipe F2 pada persilangan monohibrid
dominan penuh adalah :
Tinggi : Pendek = 3 : 1 . Perbandingan Genotipe nya adalah : TT :
Tt : tt = 1 : 2 : 1
b. Persilangan Monohibrid Intermediet
Persilangan ini tidak seperti salah satu
fenotip galur murni, tetapi mempunyai fenotipe diantara kedua induknya.
Perhatikan contoh : Tanaman
Antihinum majus galur Murni merah (MM) disilangkan dengan galur murni putih
(mm). Dari persilangan itu diperoleh hasil F1 yang semuanya
berbunga merah muda . Jika F1 ini ditanam dan diadakan penyerbukan
dengan sesamanya, maka F2 menghasilkan tanaman berbunga merah, merah muda, dan
putih dengan perbandingan : 1 : 2 : 1. Persilangannya dapat dilihat sebagai
berikut :
|
P1
|
Tanaman
berbunga merah
|
><
|
Tanaman berbunga putih
|
|
Genotipe
|
MM
|
><
|
Mm
|
|
Gamet
|
M
dan M
|
|
m
dan m
|
|
F1
|
|
Mm
|
Fenotipe
: berbunga merah muda
|
|
P2
|
Mm
(merah muda)
|
><
|
Mm
(merah muda)
|
|
Gamet
|
M
dan m
|
><
|
M
dan m
|
Kemungkinan terjadinya kombinasi pada F2 adalah :
|
Gamet
Gamet
|
M
|
M
|
|
M
|
MM
(Merah) 1
|
Mm
(merah muda) 2
|
|
m
|
Mm
(merah muda) 3
|
Mm
(putih) 4
|
Perbandingan Fenotipe F2 pada persilangan monohibrid intermediet
adalah :
merah : merah muda : putih = 1 : 2 : 1. Perbandingan Genotipenya :
MM : Mm : mm = 1 : 2 : 1
- Persilangan Dua Individu
dengan Dua Sifat Beda (Dihibrid)
Persilangan dua individu
dengan dua sifat beda atau lebih menghasilkan keturunan dengan perbandingan
fenotipe dan genotipe tertentu. Mendel dalam percobaannya menggunakan kacang
ercis galur murni yang mempunyai biji bulat warna kuning dengan galur murni
yang mempunyai biji keriput warna hijau. Karena bulat dan kuning dominan
terhadap keriput dan hijau, maka F1 seluruhnya berupa kacang ercis berbiji
bulat dan warna biji kuning. Biji-biji F1 ini kemudian ditanam kembali dan
dilakukan penyerbukan sesamanya untuk memperoleh F2. Keturunan kedua F2 yang
diperoleh adalah sebagai berikut. Persilangan tersebut adalah persilangan dua
individu dengan dua sifat beda yaitu bentuk biji dan warna biji.
B=bulat, dominan terhadap keriput b=keriput,
K=kuning, dominan terhadap hijau k= hijau
Perhatikan bagan
persilangan dua individu dengan dua sifat beda (dihibrid) di bawah
|
P1
|
Kacang
ercis berbiji bulat warna kuning
|
><
|
Kacang
ercis berbiji keriput warna hijau
|
|
Genotipe
|
BBKK
|
><
|
Bbkk
|
|
Gamet
|
BK
dan BK
|
><
|
bk
dan bk
|
|
F1
|
BbKk
|
Fenotipe
: berbiji bulat warna kuning
|
|
|
P2
|
BbKk
|
><
|
BbKk
|
|
Gamet
|
BK,B
k,bK,bk
|
><
|
BK,Bk,bK,bk
|
Kemungkinan terjadinya kombinasi pada F2 adalah Sbb :
|
F2 :
|
Gamet
Gamet
|
BK
|
Bk
|
bK
|
Bk
|
||||
|
|
BK
|
BBKK
|
1
|
BBKk
|
2
|
BbKK
|
3
|
BbKk
|
4
|
|
|
Bk
|
BBKk
|
5
|
BBkk
|
6
|
BbKk
|
7
|
Bbkk
|
8
|
|
|
bK
|
BbKK
|
9
|
BbKk
|
10
|
bbKK
|
11
|
bbKk
|
12
|
|
|
Bk
|
BbKk
|
13
|
Bbkk
|
14
|
bbKk
|
15
|
Bbkk
|
16
|
Individu yang mengandung B memiliki biji bulat
dan individu yang mengandung K
memiliki biji warna kuning, Fenotipe pada F2 adalah :
1.
bulat –
kuning = nomor : 1 , 2, 3, 4, 5, 7, 9, 10, 13
2.
bulat –
hijau = nomor : 6, 18, 14
3.
keripit
– kuing = nomor : 11, 12, 15
4.
keriput
– hijau = nomor : 16
Perbandingan Fenotipe F2 adalah :
bulat – kuning : bulat – hijau : keriput – kuning : keriput –
hijau = 9 : 3 : 3 : 1
Kemungkinan macam genotipe dan fenotipe pada dihibrid F2 :
|
Kemungkinan ke-
|
Kotak
nomor
|
Genotipe
|
Fenotipe
|
|
1
|
1
|
BBKK
|
Bulat
kuning
|
|
2
|
2,
5
|
BBKk
|
Bulat
kuning
|
|
3
|
3,
9
|
BbKK
|
Bulat
kuning
|
|
4
|
4,7,
10, 13
|
BbKk
|
Bulat
kuning
|
|
5
|
6
|
BBkk
|
Bulat
hijau
|
|
6
|
8,
14
|
Bbkk
|
Bulat
hijau
|
|
7
|
11
|
bbKK
|
Keriput
kuning
|
|
8
|
12,
15
|
bbKk
|
Keriput
kuning
|
|
9
|
16
|
bbkk
|
Keriput
hijau
|
Perbandingan Genotipe nya :
BBKK : BBKk : BbKK : BbKk : BBkk : Bbkk : bbKK : bbKk : bbkk
1 : 2 : 2 : 4 : 1 : 2 : 1 : 2 :1
- Persilangan dua Individu
dengan Tiga Sifat Beda (Trihibrid)
Misalnya persilangan
kacang ercis dengan tiga sifat beda yaitu :Batang tinggi, biji bulat dan biji
warna kuning, dengan batang pendek, biji keriput, warna biji hijau. Keturunan
F1 yang dihasilkan adalah : Bagan persilangan Trihibrid
|
P1
|
TTKKBB
|
><
|
Ttkkbb
|
|
Fenotipe
|
Tinggi,kuning,bulat
|
><
|
Pendek,keriput,hijau
|
|
Genotipe
|
TKB
|
><
|
Tkb
|
|
F1
|
|
TtKkBb
|
|
|
|
|
Fenotipe
: Tinggi,kuning,bulat
|
|
|
P2
|
TtKkBb
|
><
|
TtKkBb
|
|
Gamet
|
|
TKB,TKb,TkB,Tkb,tKB,tKb,
tkB,tkb
|
|
Hubungan sifat beda dan jumlah kemungkinan fenotipe dan genotipe
pada F2
|
Jumlah Sifat Beda
|
Jumlah
Macam Gamet
|
Jumlah
Macam Genotipe F2
|
Jumlah
Macam Fenotipe F2
|
Perbandingan
Fenotipe F2
|
Jumlah
Individu F2
|
|
1
|
21 =
2
|
3
|
2
|
3
: 1
|
4
|
|
2
|
22 =
4
|
9
|
4
|
9
: 3 : 3 : 1
|
16
|
|
3
|
23 =
8
|
27
|
8
|
27:9:9:9:3:3:3:1
|
64
|
|
N
|
2n
|
3n
|
2n
|
|
4n
|
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Hukum pewarisan
Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan
oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya 'Percobaan mengenai Persilangan
Tanaman'. Hukum ini terdiri dari dua bagian:
Hukum pemisahan
(segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Pertama Mendel, dan Hukum
berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel, juga dikenal
sebagai Hukum Kedua Mendel.
2.
Saran
1. Semoga
makalah ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya.
2.
Penyusun makalah
mengharapkan kritik dan saran yang membangun bagi kelancaran dan kesempurnaan
penyusunan makalah berikutnya
DAFTAR PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar