LAPORAN TUTORIAL KEP. ANAK
LAPORAN TUTORIAL
KEPERAWATAN ANAK II
(Skenario II)
DISUSUN OLEH :
Kelompok D2
Anggota : Umi Salam Ade
Tria Maresa
Rinaldy Andriansyah
Sandra Puspita Ningrum
Al Anzuhraful
Mustamiatul Khairiah
Winanti Karina Harwin Fatmawati Pelupessy
Aprilia Boku
Khusnuzzakiyah
Herlina Sari
Sri Wahyuni Widyastuti
Evi nurdiana
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS AISYIYAH
YOGYAKARTA
2018
SKENARIO 2
Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun baru saja didiagnosis Diabetes Mellitus tipe 1 masuk untuk dirawat di BangsalAnak RS. Hasil anamnesis anak mengatakan bahwa ia banyak makan, banyak minum, banyak kencing, berat badannya turun, enuresis. Ia juga mudah tersinggung, tidak bisa perhatian lama ketika mengikuti pelajaran di sekolah, merasa lelah, penglihatan kabur, sakit kepala, kalau ada luka sukar sembuh dan mudah terserang flu.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan BB= 25,5 kg, PB = 135 cm. Suhu =37,4oC, Nadi = 88 kali/menit, Respirasi=24 kali/menit, Tekanan Darah=110/70 mmHg. Turgor kulit kembali segera. Kulitkering, membrane mukosa lembab. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan: Haemoglobin : 11,2 gr/dl, Haematokrit : 30%, Eritrosit : 4,0 (x106/μL), trombosit : 210.000 / mm3, Leukosit : 9.500 / μl, glukosa darah 300 mg/dL.
Orang tua mengatakan bahwa mereka sangat terkejut dan tidak percaya ketika anaknyadidiagnosis DM tipe 1, padahal tidak ada anggota keluarga yang menderita DM. Mereka mengatakan tidak paham tentang DM Tipe 1 dan cara perawatannya terutama setelah pulang dari rumahsakit. Orang tua khawatir memikirkan masa depan anaknya. Terapi instruksi medis yang diberikan saat ini : cek gula darah 2 kali/hari, insulin 2 unit dari U100 sebelum makan.
PERTEMUAN 1
STEP 1 Mengklarifikasi istilah atau konsep
Tanya : Umi : enuresis?
Jawab : Sandra : kencing tanpa disadari pada malam hari (ngompol)
STEP 2 Mendefinisika nmasalah
1. Zakiyah : kenapa luka pada diabetes militus itu sulit sembuh tidak seperti luka yang biasa?
2. Umi : kenapa orang diabetes militus mudah terkena flu?
3. fatma : kenapa anak menderita diabetes militus sedangkan pada keluarga tidak terdapat riwayat penyakit diabetes militus?
4. mustami : kenapa berat badannya menurun padahal makan dan minumnya banyak?
5. tria : mengapa pada pasien diabetes militus penglihatannya kabur?
6. umi : kenapa anak dengan diabetes militus mudah tersinggung dan sulit konsentrasi saat belajar?
7. Sandra : berapa nilai normal kadar glukosa pada anak-anak?
STEP 3 Menganalisis masalah
1. Evi : karena salah satu suplei oksigen yang sangat dibutuhkan jadi apabila penyakit DM suplei o2 nya terganggu
• Herlina : selain kebutuhan oksigen kebutuhan gizi pun sangat dibutuhkan dalam proses penyembuhan luka
2. Tria : karena pada pasien DM system kekebalan tubuhnya menurun makatidak dapat melawan serangan dari kuman / mikro badan akibatnya tidak bisa menahan diri dari penyakit
3. Mustami : faktor dari DM ini bukan dari hanya genetic tapi bisa juga terjadi karena faktor makanan, jika sering mengkonsumsi makanan yang tidak sehat seperti yang mengandung lemak tinggi dan memiliki kadar gula yang manis
4. Herlina : karena glukosa menarik air sehingga pasien dengan DM akan sering kencing atau poli urin dan akan merasa haus terus. Didalam urin yang dikeluarkan banyak yang kandungan yang keluar seperti elektrolit, natrium, klorida, kalsium dan fospot.
• Sri wahyuni : karena gula darah menumpuk dalam peredaran darah karena tidak dapat diangkut didalam sel untuk dijadikan sumber energy maka tubuh akan kekurangan bahan bakar sebagai sumber tenaga pasien terusakan merasa lapar dan meningkatkan asupan makanan
• Umi : penurunan berat badan terjadi karena glukosa yang menjadi sumber energy tidak diangkut didalam sel sehingga otak memerintahkan tubuh untuk memecah lemak dari jaringan otot menjadi energy proses inilah menjadi pasien kurus
5. Sandra : karena kadar glukosanya tinggi sehingga bisa menyebabkan kerusakan pada saraf-saraf diretina mata bisa menyebabkan retinopati sehingga terjadinya penglihatan kabur
• Evi : salah satu komplikasi dari DM ituneuropati = disebabkan oleh suplei o2 tidak lancer , apabila saraf tadi terganggu pada retina dimata menjadikan pasien tersebut penglihatannya kabur
6. Aprilia : pertama diakibatkan tuhubnya tidak mendapatkan energy yang cukup sehingga mempengaruhi konsentrasinya
7. Herlina : 70-150mg/dl
STEP 4 Menyusun urutan penjelasan masalah (Pertanyaan&Hipotesis)
1. Ketidakstabilan glukosa darah b.d Disfungsi pancreas d.d
DS : - lelah
- Haus
- sering kencing
DO : - Glukosa 300mg/dl
2. Ketidakseimbangan nutrisi dari kebutuhan tubuh b.d Faktor biologis d.d
DS : -pasien mengatakan BB menurun
DO : - BB 25,5kg
3. Defisiensi pengetahuan b.d Kurang informasi d.d
DS : - Orang tua mengatakan tidak paham tentang DM tipe 1 dan cara perawatannya setelah pulang kerumah
- Orang tua mengatakan bahwa mereka sangat terkejut dan tidak percaya ketika anaknya didiagnosis DM tipe 1, padahal tidak ada anggota keluarga yang menderita DM.
- Orang tua khawatir memikirkan masa depan anaknya
DO : -
4. Resiko infeksi b.d Penyakit kronis (diabetes militus) d.d
DS : - pasien mengatakan penglihatan kabur
DO : -
5. Resiko jatuh b.d Gangguan visual d.d
DS : - pasien mengatakan penglihatan kabur
DO : -
STEP 5 Menetapkan tujuan belajar
A. Pengertian
B. Penyebab
C. Patofis (Patway)
D. Tanda dan gejala
E. Komplikasi
F. Pecegahan
G. Penatalaksanaan
PERTEMUAN 2
STEP 6 Menuyusun Asuhan keperawatan
Diabetes Melitus Tipe 1
A. Pengertian
Diabetes mellitus tipe 1 dahulu disebut insulin-dependent diabetes (IDDM, diabetes yang bergantung pada insulin), dicirikan denganrusaknya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau langerhanssehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe inidapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Sampai saat ini diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah. Kebanyakan penderita diabetes tipe 1 memiliki kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini mulai dideritanya. Selain itu, sensitivitas maupun respons tubuh terhadap insulin umumnya normal pada penderita diabetes tipe ini, terutama pada tahap awal.
Penyebab terbanyak dari kehilangan sel beta pada diabetes tipe 1adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh.
B. Epimiodologi
Pada Diabetes Mellitus tipe 1 biasanya terdapat pada anak-anak dan remaja , salah satu penyebabnya adalah seringnya mengkonsumsi fast food. Ibu yang melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 kg juga berisiko mengalami Diabetes Mellitus.
Variasi siklik musiman dalam jangka lama terjadi pada insiden diabetes insipidus tergantung insulin. Kasus yang baru diketahui tampak lebih sering pada bulan-bulan musim semi dan musim dingin di belahan bumi uatara dan selatan.
Tabel 1. Prevalensi Kejadian Diabetes Mellitus di Beberapa Negara Tahun 2000
(FKM, Universitas Hasanuddin, Makassar, 2007)
No Rangking negara tahun 2000 Orang dengan DM (juta)
1. India 31,7
2. Cina 20,8
3. Amerika Serikat 17,7
4. Indonesia 8,4
5. Jepang 6,8
6. Pakistan 5,2
7. Federasi Rusia 4,6
8. Brazil 4,6
9. Italia 4,3
10. Banglades 3,2
C. Penyebab
a. Faktor genetic
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (human leucosite antigen). HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen transplantasi dan proses imun lainnya.
b. Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing, yaitu autoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
c. Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi sel beta.
D. Klasifikasi
Klasifikasi DM tipe 1, berdasarkan etiologi sebagai berikut :
Pada DM tipe I, dikenal 2 bentuk dengan patofisiologi yang berbeda.
1. Tipe IA, diduga pengaruh genetik dan lingkungan memegang peran utama untuk terjadinya kerusakan pankreas. HLA-DR4 ditemukan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan fenomena ini.
2. Tipe IB berhubungan dengan keadaan autoimun primer pada sekelompok penderita yang juga sering menunjukkan manifestasi autoimun lainnya, seperti Hashimoto disease, Graves disease, pernicious anemia, dan myasthenia gravis. Keadaan ini berhubungan dengan antigen HLA-DR3 dan muncul pada usia sekitar 30 – 50 tahun.
E. Patofisiologi
Diabetes tipe 1 disebabkan oleh infeksi atau toksin lingkungan yang menyerang orang dengan sistem imun yang secara genetis merupakan predisposisi untuk terjadinya suatu respon autoimun yang kuat yang menyerang antigen sel B pankreas. Faktor ekstrinsik yang diduga mempengaruhi fungsi sel B meliputi kerusakan yang disebabkan oleh virus, seperti virus penyakit gondok (mumps) dan virus coxsackie B4, oleh agen kimia yang bersifat toksik, atau oleh sitotoksin perusak dan antibodi yang dirilis oleh imunosit yang disensitisasi. Suatu kerusakan genetis yang mendasari yang berhubungan dengan replikasi atau fungsi sel B pankreas dapat menyebabkan predisposisi terjadinya kegagalan sel B setelah infeksi virus. Lagipula, gen-gen HLA yang khusus diduga meningkatkan kerentanan terhadap virus diabetogenik atau mungkin dikaitkan dengan gen-gen yang merespon sistem imun tertentu yang menyebabkan terjadinya predisposisi pada pasien sehingga terjadi respon autoimun terhadap sel-sel pulaunya (islets of Langerhans) sendiri atau yang dikenal dengan istilah autoregresi.
Diabetes tipe 1 merupakan bentuk diabetes parah yang berhubungan dengan terjadinya ketosis apabila tidak diobati. Diabetes ini muncul ketika pankreas sebagai pabrik insulin tidak dapat atau kurang mampu memproduksi insulin. Akibatnya, insulin tubuh kurang atau tidak ada sama sekali. Penurunan jumlah insulin menyebabkan gangguan jalur metabolik antaranya penurunan glikolisis (pemecahan glukosa menjadi air dan karbondioksida), peningkatan glikogenesis (pemecahan glikogen menjadi glukosa), terjadinya glukoneogenesis. Glukoneogenesis merupakan proses pembuatan glukosa dari asam amino , laktat , dan gliserol yang dilakukan counterregulatory hormone (glukagon, epinefrin, dan kortisol). Tanpa insulin , sintesis dan pengambilan protein, trigliserida , asam lemak, dan gliserol dalam sel akan terganggu. Aseharusnya terjadi lipogenesis namun yang terjadi adalah lipolisis yang menghasilkan badan keton.Glukosa menjadi menumpuk dalam peredaran darah karena tidak dapat diangkut ke dalam sel. Kadar glukosa lebih dari 180mg/dl ginjal tidak dapat mereabsorbsi glukosa dari glomelurus sehingga timbul glikosuria. Glukosa menarik air dan menyebabkan osmotik diuretik dan menyebabkan poliuria. Poliuria menyebabkan hilangnya elektrolit lewat urine, terutama natrium, klorida, kalium, dan fosfat merangsang rasa haus dan peningkatan asupan air (polidipsi). Sel tubuh kekurangan bahan bakar (cell starvation ) pasien merasa lapar dan peningkatan asupan makanan (polifagia).
Biasanya, diabetes tipe ini sering terjadi pada anak dan remaja tetapi kadang-kadang juga terjadi pada orang dewasa, khususnya yang non obesitas dan mereka yang berusia lanjut ketika hiperglikemia tampak pertama kali. Keadaan tersebut merupakan suatu gangguan katabolisme yang disebabkan karena hampir tidak terdapat insulin dalam sirkulasi, glukagon plasma meningkat dan sel-sel B pankreas gagal merespon semua stimulus insulinogenik. Oleh karena itu, diperlukan pemberian insulin eksogen untuk memperbaiki katabolisme, mencegah ketosis, dan menurunkan hiperglukagonemia dan peningkatan kadar glukosa darah.(Tandra,2007).
F. Pathway
G. Manifestasi Klinis
Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf.
Manifestasi klinis DM tipe 1 sama dengan manifestasi pada DM tahap awal, yang sering ditemukan :
a. Poliuri (banyak kencing)
Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing.
b. Polidipsi (banyak minum)
Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri, sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum.
c. Polifagia (banyak makan)
Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar). Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi walaupun klien banyak makan, tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah.
d. Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang.
Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh berusama mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein, karena tubuh terus merasakan lapar, maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan DM walaupun banyak makan akan tetap kurus.
e. Mata kabur
Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) yang disebabkan karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa, sehingga menyebabkan pembentukan katarak.
f. Ketoasidosis.
Anak dengan DM tipe-1 cepat sekali menjurus ke-dalam ketoasidosis diabetik yang disertai atau tanpa koma dengan prognosis yang kurang baik bila tidak diterapi dengan baik.
H. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi : pada DM tipe 1 didapatkan klien mengeluh kehausan, klien tampak banyak makan, klien tampak kurus dengan berat badan menurun, terdapat penutunan lapang pandang, klien tampak lemah dan mengalam penurunan tonus otot
Palpasi : denyut nadi meningkat, tekanan darah meningkat yang menandakan bahwa terjadinya hipertensi.
Auskultasi : adanya peningkatan tekanan darah
I. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dlakukan pada DM tipe 1 dan 2 umumnya tidak jauh berbeda.
a. Glukosa darah : meningkat 200-100mg/dL
b. Aseton plasma (keton) : positif secara mencolok
c. Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat
d. Osmolalitas serum : meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 mOsm/l
e. Elektrolit :
1. Natrium : mungkin normal, meningkat, atau menurun
2. Kalium : normal atau peningkatan semu ( perpindahan seluler), selanjutnya akan menurun.
3. Fosfor : lebih sering menurun
4. Hemoglobin glikosilat : kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal yang mencerminkan control DM yang kurang selama 4 bulan terakhir ( lama hidup SDM) dan karenanaya sangat bermanfaat untuk membedakan DKA dengan control tidak adekuat versus DKA yang berhubungan dengan insiden ( mis, ISK baru)
5. Gas Darah Arteri : biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada HCO3 ( asidosis metabolic) dengan kompensasi alkalosis respiratorik.
6. Trombosit darah : Ht mungkin meningkat ( dehidrasi) ; leukositosis : hemokonsentrasi ;merupakan respon terhadap stress atau infeksi.
7. Ureum / kreatinin : mungkin meningkat atau normal ( dehidrasi/ penurunan fungsi ginjal)
8. Amilase darah : mungkin meningkat yang mengindikasikan adanya pancreatitis akut sebagai penyebab dari DKA.
9. Insulin darah : mungkin menurun / atau bahka sampai tidak ada ( pada tipe 1) atau normal sampai tinggi ( pada tipe II) yang mengindikasikan insufisiensi insulin/ gangguan dalam penggunaannya (endogen/eksogen). Resisten insulin dapat berkembang sekunder terhadap pembentukan antibody . ( autoantibody)
10. Pemeriksaan fungsi tiroid : peningkatan aktivitas hormone tiroid dapat meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.
11. Urine : gula dan aseton positif : berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat.
12. Kultur dan sensitivitas : kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih, infeksi pernafasan dan infeksi pada luka.
J. Kriteria Diagnostik
Diagnosis didapatkan dari anamnesis, gejala klinis, serta data laboratorium, dengan kriteria data lab:
Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl)
Bukan DM Belum pasti DM DM
Kadar glukosa darah sewaktu:
1. Plasma vena
2. Darah kapiler
< 100
< 80
100 – 200
80 – 200
>200
>200
Kadar glukosa darah puasa:
1. Plasma vena
2. Darah kapiler
< 110
< 90
110 – 120
90 – 110
>126
>110
Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :
a. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
b. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
c. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl
K. Diagnosa Banding
Produksi berlebihan glukokortikoid atau katekolamin pada :
1. Tumor hipotalamus atau hipofisis
2. Tumor atau hiperplasia adrenal
3. Renal glukosuria (Pada keadaan ini didapatkan glukosuria tanpa hiperglikemia maupun ketosis)
4. Feokromositoma (Pada keadaan ini didapatkan uji toleransi glukosa yang abnormal dan glukosuria tanpa ketosis, yang disebabkan oleh peningkatan glikogenolisis dan glukoneogenesis).
L. Penatalaksanaan
Ada enam cara dalam penatalaksanaan DM tipe 1 meliputi:
Pemberian insulinYang harus diperhatikan dalam pemberian insulin adalah jenis, dosis, kapan pemberian, dan cara penyuntikan serta penyimpanan. Terdapat berbagai jenis insulin berdasarkan asal maupun lama kerjanya, menjadi kerja cepat/rapid acting, kerja pendek(regular/soluble), menengah, panjang, dan campuran.
a. Cara pemberian /penyuntikan hormone insulin
1. Indikasi dan kontra indikasi pemberian /penyuntikan hormone insulin.
2. Efek samping pemberian / penyuntikan hormone insulin.dll
3. Suntikan insulin untuk pengobatan diabetes dinamakan terapi insulin.
b. Tujuan terapi ini terutama untuk :
1. Mempertahankan glukosa darah dalam kadar yang normal atau mendekati normal.
2. Menghambat kemungkinan timbulnya komplikasi kronis pada diabetes.
3. Keberhasilan terapi insulin juga tergantung terhadap gaya hidup seperti program diet dan olahraga secara teratur
c. Indikasi penggunaan terapi insulin harus memenuhi kriteria di bawah ini :
1. Menggunakan insulin lebih dari 3 kali sehari
2. Kadar glukosa darah sering tidak teratur
3. Ingin mengurangi resiko hipoglikemi
4. Ingin mengurangi resiko komplikasi yang berkelanjutan
5. Ingin lebih bebas beraktifitas dan gaya hidup yang lebih fleksibel
d. Enam tipe insulin berdasarkan mulai kerja, puncak, dan lama kerja insulin tersebut, yakni :
1. Insulin Keja Cepat (Short-acting Insulin)
2. Insulin Kerja Sangat Cepat (Quick-Acting Insulin)
3. Insulin Kerja Sedang (Intermediate-Acting Insulin)
4. Mixed Insulin
5. Insulin Kerja Panjang (Long-Acting Insulin)
6. Insulin Kerja Sangat Panjang (Very Long Acting Insulin)
e. Cara Pemberian Insulin
Struktur kimia hormon insulin bisa rusak oleh proses pencernaan sehingga insulin tidak bisa diberikan melalui tablet atau pil. Satu-satunya jalan pemberian insulin adalah melalui suntikan, bisa suntikan di bawah kulit (subcutan/sc), suntikan ke dalam otot (intramuscular/im), atau suntukan ke dalam pembuluh vena (intravena/iv). Ada pula yang dipakai secara terus menerus dengan pompa (insulin pump/CSII) atau sistem tembak (tekan semprot) ke dalam kulit (insulin medijector).
Dosis anak bervariasi berkisar antara 0,7-1,0 U/kg per hari. Dosis insulin ini berkurang sedikit pada adanya fase remisi yang dikenal sebagai honeymoon periode dan kemudian meningkat pada saat pubertas.
Saat awal pengobatan insulin diberikan 3-4 kali injeksi. Bila dosis optimal dapat diperoleh, diusahakan untuk mengurangi jumlah suntikan menjadi 2 kali dengan menggunakan insulin kerja mengengah atau kombinasi kerja pendekb dan menengah (split-mix regimen). Penyuntikan setiap hari secara subkutan dipaha, lengan atas, sekitar umbilicus secara bergantian. Insulin sebaiknya disimpan dalam lemari es pada suhu 4-80C.
f. Pengaturan makan/diet
Jumlah kebutuhan kalori untuk anak usia 1 tahun sampai dengan usia pubertas dapat juga ditentukan dengan rumus sebagai berikut :
1. 1000 + (usia dalam tahun x 100) = ……. Kalori/hari
2. Komposisi sumber kalori per hari sebaiknya terdiri atas : 50-55% karbohidrat, 10-15% protein (semakin menurun dengan bertambahnya umur), dan 30-35% lemak.
3. Pembagian kalori per 24 jam diberikan 3 kali makanan utama dan 3 kali makanan kecil sebagai berikut :
a. 20% berupa makan pagi.
b. 10% berupa makanan kecil.
c. 25% berupa makan siang.
d. 10% berupa makanan kecil.
e. 25% berupa makan malam.
f. 10% berupa makanan kecil.
Dari sisi makanan penderita diabetes atau kencing manis lebih dianjurkan mengkonsumsi karbohidrat berserat seperti kacang-kacangan, sayuran, buah segar seperti pepaya, kedondong, apel, tomat, salak, semangka dll. Sedangkan buah-buahan yang terlalu manis seperti sawo, jeruk, nanas, rambutan, durian, nangka, anggur, tidak dianjurkan.
Menurut peneliti gizi asal Universitas Airlangga, Surabaya, Prof. Dr. Dr. H. Askandar Tjokroprawiro, menggolongkan diet atas dua bagian, A dan B. Diet B dengan komposisi 68% karbohidrat, 20% lemak, dan 12% protein, lebih cocok buat orang Indonesia dibandingkan dengan diet A yang terdiri atas 40 – 50% karbohidrat, 30 – 35% lemak dan 20 – 25% protein. Diet B selain mengandung karbohidrat lumayan tinggi, juga kaya serat dan rendah kolesterol. Berdasarkan penelitian, diet tinggi karbohidrat kompleks dalam dosis terbagi, dapat memperbaiki kepekaan sel beta pankreas.
4. Serat makanan
Tipe diet ini berperan dalam penurunan kadar total kolesterol dan LDL (low-density lipoprotein) kolesterol dalm darah. Peningkatan kandungan serat dalam diet dapat pula memperbaiki kadar glukosa darah sehingga kebutuhan insulin dari luar dapat dikurangi.
Mekanisme kerja serat terlarut diperkirakan berhubungan dengan pembentukan gel dalam traktus gastrointestinal. Gel ini akan memperlambat pengosongan lambung dan gerakan makanan yang melalui saluran cerna bagian atas. Efek penurunan glukosa yang potensial oleh serat makanan tersebut mungkin disebabkan oleh kecepatan absorpsi glukosa yang lebih lambat.
Sementara itu tingginya serat dalam sayuran jenis A(bayam, buncis, kacang panjang, jagung muda, labu siam, wortel, pare, nangka muda) ditambah sayuran jenis B (kembang kol, jamur segar, seledri, taoge, ketimun, gambas, cabai hijau, labu air, terung, tomat, sawi) akan menekan kenaikan kadar glukosa dan kolesterol darah. Bawang merah dan putih (berkhasiat 10 kali bawang merah) serta buncis baik sekali jika ditambahkan dalam diet diabetes karena secara bersama-sama dapat menurunkan kadar lemak darah dan glukosa darah.
5. Alkohol
Alkohol dapat menurunkan reaksi fisiologi normal dalam tubuh yang memproduksi glukosa (glukoneogenesis). Jadi, jika seorang penderita diabetes minum minuman beralkohol pada saat lambung kosong, maka kemungkinan terjadinya hipoglikemia akan meningkat. Konsumsi alcohol yang berlebihan dapat menggganggu kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi serta mengatasi keadaan hipoglikemia dengan tepat dan mengikuti rencana makan yang sudah diresepkan untuk mencegah hipoglikemian.
6. Olahraga
Dianjurkan latihan jasmani teratur 3-4 kali tiap minggu selam kurang lebih 30 menit yang sifatnya sesuai CRIPE (Continous Rytmical Interval Progressive Endurance Training). Latihan yang dapa dijadikan pilihan adalah jalan kaki, jogging, lari, renang, dan bersepeda.
7. Obat hipoglikemik oral (OHO)
Jika pasien telah melakukan pengturan makan dan kegiatan jasmani yang teratur, tetapi kadar glukosa darahnya masih belum baik, dipertimbangkan pemakaian obat berhasiat hipoglikemik.
a. Sulfoniurea
Berfungsi untuk menstimulasin pelepasan insulin yang tersimpan, menurunkan ambang sekresi insulin, meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa.
b. Biguanid
Menurunkan kadar glukosa darah tapi tidak sampai di bawah normal. Dianjurkan untuk pasien gemuk.
c. Inhibitor α glukosidase
Bersifat kompetitif menghambat kerja enzim α glukosidase sehingga menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan hiperglikemia pascaprandial.
d. Insulin sentizing agent
Berfungsi meningkatkan sensitifitas insulin tanpa menyebabkan hipoglikemia.
e. Edukasi
Kegiatan edukasi meliputi pemahaman dan pengertian penyakit dan komplikasinya, memotivasi penderita dan keluarga agar patuh berobat.
f. Pemantauan mandiri/home monitoring
Pasien serta keluarga harus dapat melakukan pemantauan kadar glukosa darah dan penyakitnya di rumah. Halini sangat diperlukan karenasangat menunjang upaya pencapaian normoglikemia. Pamantauan dapat dilakukan secara langsung (darah) dan secara tidak langsung (urin).
M. Komplikasi
Komplikasi DM baik pada DM tipe 1 maupun 2, dapat dibagi menjadi2 kategori, yaitu komplikasi akut dan komplikasi menahun.
a. Komplikasi Metabolik Akut
1. Ketoasidosis Diabetik (khusus pada DM tipe 1)
Apabila kadar insulin sangat menurun, pasien mengalami hiperglikemi dan glukosuria berat, penurunan glikogenesis, peningkatan glikolisis, dan peningkatan oksidasi asam lemak bebas disertai penumpukkan benda keton, peningkatan keton dalam plasma mengakibatkan ketosis, peningkatan ion hidrogen dan asidosis metabolik. Glukosuria dan ketonuria juga mengakibatkan diuresis osmotik dengan hasil akhir dehidasi dan kehilangan elektrolit sehingga hipertensi dan mengalami syok yang akhirnya klien dapat koma dan meninggal
2. Hipoglikemi
Seseorang yang memiliki Diabetes Mellitus dikatakan mengalami hipoglikemia jika kadar glukosa darah kurang dari 50 mg/dl. Hipoglikemia dapat terjadi akibat lupa atau terlambat makan sedangkan penderita mendapatkan therapi insulin, akibat latihan fisik yang lebih berat dari biasanya tanpa suplemen kalori tambahan, ataupun akibat penurunan dosis insulin. Hipoglikemia umumnya ditandai oleh pucat, takikardi, gelisah, lemah, lapar, palpitasi, berkeringat dingin, mata berkunang-kunang, tremor, pusing/sakit kepala yang disebabkan oleh pelepasan epinefrin, juga akibat kekurangan glukosa dalam otak akan menunjukkan gejala-gejala seperti tingkah laku aneh, sensorium yang tumpul, dan pada akhirnya terjadi penurunan kesadaran dan koma.
b. Komplikasi Vaskular Jangka Panjang (pada DM tipe 1 biasanya terjadi memasuki tahun ke 5)
1. Mikroangiopaty merupakan lesi spesifik diabetes yang menyerang kapiler dan arteriola retina (retinopaty diabetik), glomerulus ginjal (nefropatik diabetic/dijumpai pada 1 diantara 3 penderita DM tipe-1), syaraf-syaraf perifer (neuropaty diabetik), otot-otot dan kulit. Manifestasi klinis retinopati berupa mikroaneurisma (pelebaran sakular yang kecil) dari arteriola retina. Akibat terjadi perdarahan, neovasklarisasi dan jaringan parut retina yang dapat mengakibatkan kebutaan. Manifestasi dini nefropaty berupa protein urin dan hipetensi jika hilangnya fungsi nefron terus berkelanjutan, pasien akan menderita insufisiensi ginjal dan uremia. Neuropaty dan katarak timbul sebagai akibat gangguan jalur poliol (glukosa—sorbitol—fruktosa) akibat kekurangan insulin. Penimbunan sorbitol dalam lensa mengakibatkan katarak dan kebutaan. Pada jaringan syaraf terjadi penimbunan sorbitol dan fruktosa dan penurunan kadar mioinositol yang menimbulkan neuropaty. Neuropaty dapat menyerang syaraf-syaraf perifer, syaraf-syaraf kranial atau sistem syaraf otonom.
2. Makroangiopaty Gangguan-gangguan yang disebabkan oleh insufisiensi insulin dapat menjadi penyebab berbagai jenis penyakit vaskuler. Gangguan ini berupa :
a. Penimbunan sorbitol dalam intima vascular.
b. Hiperlipoproteinemia
c. Kelainan pembekun darah
Pada akhirnya makroangiopaty diabetik akan mengakibatkan penyumbatan vaskular jika mengenai arteria-arteria perifer maka dapat menyebabkan insufisiensi vaskular perifer yang disertai Klaudikasio intermiten dan gangren pada ekstremitas. Jika yang terkena adalah arteria koronaria, dan aorta maka dapat mengakibatkan angina pektoris dan infark miokardium. Komplikasi diabetik diatas dapat dicegah jika pengobatan diabetes cukup efektif untuk menormalkan metabolisme glukosa secara keseluruhan.
N. Prognosis
DM tipe 1 merupakan penyakit kronik yang memerlukan pengobatan seumur hidup. DM tipe 1 tidak bisa disembuhkan tetapi kualitas hidup penderita dapat dipertahankan seoptimal mungkin dengan mengusahakan control metabolic yang baik. Yang dimaksud control metabolic yang baik adalah mengusahakan kadar glukosa darah berada dalam batas normal atau mendekati nilai normal, tanpa menyebabkan hipoglikemia.
Sekitar 60 % pasien DMT1 yang mendapat insulin dapat bertahan hidup seperti orang dapat mengalami kebutaan, gagal ginjal kronik, dan kemungkinan untuk meninggal lebih cepat.Anak dengan DM tipe-1 cepat sekali menjurus ke-dalam ketoasidosis diabetik yang disertai atau tanpa koma dengan prognosis yang kurang baik bila tidak diterapi dengan baik. Oleh karena itu, pada dugaan DM tipe-1, penderita harus segera dirawat inap, Prognosis ditentukan oleh regulasi DM dan adanya komplikasi. Regulasi teratur dan baik akan memberikan prognosis baik.
ASUHAN KEPERAWATAN
A. KLASIFIKASI DATA
DS :
- anak mengatakan banyak makan, minum, dan kencing, Berat badan menurun, mudah tersinggung, merasa lelah, tidak bisa perhatian lama saat mengikuti pelajaran di sekolah, penglihatan kabur, sakit kepala, mudah terserang flu, luka sukar sembuh
- Orang tua mengatakan tidak paham tentang DM tipe 1 dan cara perawatannya setelah pulang kerumah
- Orang tua khawatir memikirkan masa depan anaknya
- Orang tua mengatakan bahwa mereka sangat terkejut dan tidak percaya ketika anaknya didiagnosis DM tipe 1, padahal tidak ada anggota keluarga yang menderita DM.
DO :
- BB 25,5 kg
- PB 135 cm
- Kulit kering- glukosa darah 300 mg/Dl
B. ANALISA DATA
no Data Masalah Etiologi
1 DS : - lelah
- Haus
- sering kencing
DO : - Glukosa 300mg/dl
Ketidakstabilan glukosa darah Disfungsi pankreas
2 DS : -pasien mengatakan BB menurun
DO : - BB 25,5kg Ketidakseimbangan nutrisi dari kebutuhan tubuh Faktor biologis
3 DS : - Orang tua mengatakan tidak paham tentang DM tipe 1 dan cara perawatannya setelah pulang kerumah
- Orang tua mengatakan bahwa mereka sangat terkejut dan tidak percaya ketika anaknya didiagnosis DM tipe 1, padahal tidak ada anggota keluarga yang menderita DM.
- Orang tua khawatir memikirkan masa depan anaknya
DO : - Defisiensi pengetahuan Kurang informasi
4 DS : - pasien mengatakan penglihatan kabur
DO : - Resiko jatuh Gangguan visual
5 DS : - pasien mengatakan mudah terserang flu dan luka sukar sembuh
DO : - glukosa darah 300 mg/dL Resiko infeksi Penyakit kronis (diabetes militus)
C. PRIORITAS MASALAH
1. Ketidakstabilan glukosa darah b.d Disfungsi pancreas
2. Ketidakseimbangan nutrisi dari kebutuhan tubuh b.d Faktor biologis
3. Defisiensi pengetahuan b.d Kurang informasi
4. Resiko infeksi b.d Penyakit kronis (diabetes militus)
5. Resiko jatuh b.d Gangguan visual
no Diagnosa Rencana Keperawatan
NOC NIC
1 Ketidakstabilan glukosa darah b.d Disfungsi pancreas d.d
DS : - lelah
- Haus
- sering kencing
DO : - Glukosa 300mg/dl
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pasien menunjukan glukosa darah dengan kriteria hasil
- Glukosa darah di tingkatkan ke skala 3
Menunjukan keparahan hiperglikemia dengan kriteria hasil
- Kelelahan ditingkatkan skala 3
- Peningkatan haus ditingkatkan skala 3
- Peningkatan urin output di tingkatkan di skala 3 Manajemen hiperglikemi
1. Monitor kadar glukosa darah 2x/hari
2. Monitor tanda dan gejala hiperglikemi, poliurin, kelemahan, polifagi, pandangan kabur, sakit kepala
3. Berikan insulin 2 unit dari U100 sebelum makan
4. Indentifikasi kemungkinan penyebab hiperglikemi
5. Konsultasikan ke dokter tanda dan gejala hiperglikemi yang menetap atau membunuh
2 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Faktor biologis d.d
DS :
- pasien mengatakan BB menurun
DO : - BB 25,5kg
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pasien menunjukan status nutrisi dengan kriteria hasil :
- Rasio BB/TB di pertahankan di skala 2
- Asupan gizi di tingkatkan skala 5
Bantuan meningkatkan berat badan
1. Timbang BB pasien pada jam yang sama setiap hari
2. Monitor asupan kalori
3. Gambarkan dalam grafik mengenai kenaikan berat badan pasien dan buat rencana yang sesuai
4. Berikan makanan yang sesuai dengan instruksi dokter : diit DM
Manajemen berat badan
1. Hitung berat badan ideal pasien
2. Diskusikan dengan pasien mengenai kondisi medis yang berpengaruh terhadap berat badan
3. Kaji motivasi pasien untuk mengubah pola makan nya
3 Defisiensi pengetahuan b.d Kurang informasi d.d
DS : - Orang tua mengatakan tidak paham tentang DM tipe 1 dan cara perawatannya setelah pulang kerumah
- Orang tua mengatakan bahwa mereka sangat terkejut dan tidak percaya ketika anaknya didiagnosis DM tipe 1, padahal tidak ada anggota keluarga yang menderita DM.
- Orang tua khawatir memikirkan masa depan anaknya
DO : -
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan pasien menunjukan pengetahuan : Manajemen diabetes militus dengan kriteria hasil
1. Faktor-faktor penyebab dan faktor yang berkontribusi dengan skala 4
2. Tanda dan gejala awal penyakit dengan skala 4
3. Peran diet dalam mengontrol kadar glukosa darah dengan skala 4
4. Rencana makan yang dianjurkan dengan skala 4
5. Strategi untuk meningkatkan kepatuhan diet dengan skala 4
6. Penggunaan insulin yang benar dengan skala 5
7. Pencegahan hipoglikemi dengan skala 4 Pengajaran : proses penyakit
1. Kaji tingkat pengetahuan keluarga terkait dengan proses penyakit DM tipe 1
2. Jelaskan kepada keluarga tentang proses penyakit DM tipe 1 (penyebab, tanda gejala dll)
Pengajaran peresepan diet
1. Kaji tingkat pengetahuan pasien mengenai diet yang disarankan
2. Kaji pasien dan keluarga mengenai pandangan, kebudayaan, dan faktor lain yang mempengaruhi kemauan pasien dalam mengikuti diet yang disarankan
3. Ajarkan pasien nama nama makanan yang sesuai dengan diet yang disarankan
4. Jelaskan kepada pasien mengenai tujuan kepatuhan terhadap diet yang disarankan terkait kesehatan secara umum.
4 Resiko infeksi b.d Penyakit kronis (diabetes militus) d.d
DS : pasien mengatakan mudah terserang flu dan luka sukar sembuh
DO : glukosa darah 300 mg/dL Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pasien menunjukan Control resiko : proses infeksi dengan kriteria hasil :
1. Mengidentifikasi faktor resiko infeksi ditingkatkan keskala 4
2. Mengidentifikasi tandan dan gejala infeksi ditingkatkan skala 4
3. Memonitor faktor dilingkungan yang berhubungan dengan resiko infeksi ditingkatkan skala 4
Control infeksi
1. Ajarkan pasien dan keluarga mengenai tanda dan gejala infeksi dan kapan harus melaporkannya kepada tenaga kesehatan
2. Ajarkan pasien dan anggota keluarga mengenai bagaimana menghindari infeksi.
5 Resiko jatuh b.d Gangguan visual d.d
DS : pasien mengatakan penglihatan kabur
DO : -
Fungsi sensori : penglihatan
1. Pandangan kabur dengan skala 4
2. Sakit kepala dengan skala 5
Pencegahan jatuh
1. Identifikasi perilaku dan faktor yang mempengaruhi resiko jatuh
2. Ajarkan pasien bagaimna jika jatuh, untuk meminimalkan cidera
3. Sediakan pencahayaan yang cukup dalam rangka meningkatkan pandangan
4. Instruksikan keluarga akan pentingnya pegangan tangan untuk tangga kamar mandi dan jalur untuk berjalan
5. Berikan penanda untuk memberikan peringatan pada staf bahwa pasien beresiko tinggi jatuh
6. Ajarkan anggota keluarga mengenai faktor resiko yang berkontribusi terhadap adanya kejadian jatuh dan bagaimana keluarga bisa menurunkan resiko ini
DAFTAR PUSTAKA
Pratiwi, Andi Diah. 2007. Epidemiologi, Program Penanggulangan, dan Isu Mutakhir Diabetes Mellitus.http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2007/12/10/epidemiologi-dm-dan-isu-mutakhirnya/. (Akses 17 Maret 2010)
Carpenito, Lynda Juall. 1992. Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis, Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Faizi, Mohamad. 2010. Diabetes Tipe 1. http:// www. pediatrik.com/ 2010/02/diabetestipe1. html. (Akses 17 Maret 2010)
KEPERAWATAN ANAK II
(Skenario II)
DISUSUN OLEH :
Kelompok D2
Anggota : Umi Salam Ade
Tria Maresa
Rinaldy Andriansyah
Sandra Puspita Ningrum
Al Anzuhraful
Mustamiatul Khairiah
Winanti Karina Harwin Fatmawati Pelupessy
Aprilia Boku
Khusnuzzakiyah
Herlina Sari
Sri Wahyuni Widyastuti
Evi nurdiana
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS AISYIYAH
YOGYAKARTA
2018
SKENARIO 2
Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun baru saja didiagnosis Diabetes Mellitus tipe 1 masuk untuk dirawat di BangsalAnak RS. Hasil anamnesis anak mengatakan bahwa ia banyak makan, banyak minum, banyak kencing, berat badannya turun, enuresis. Ia juga mudah tersinggung, tidak bisa perhatian lama ketika mengikuti pelajaran di sekolah, merasa lelah, penglihatan kabur, sakit kepala, kalau ada luka sukar sembuh dan mudah terserang flu.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan BB= 25,5 kg, PB = 135 cm. Suhu =37,4oC, Nadi = 88 kali/menit, Respirasi=24 kali/menit, Tekanan Darah=110/70 mmHg. Turgor kulit kembali segera. Kulitkering, membrane mukosa lembab. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan: Haemoglobin : 11,2 gr/dl, Haematokrit : 30%, Eritrosit : 4,0 (x106/μL), trombosit : 210.000 / mm3, Leukosit : 9.500 / μl, glukosa darah 300 mg/dL.
Orang tua mengatakan bahwa mereka sangat terkejut dan tidak percaya ketika anaknyadidiagnosis DM tipe 1, padahal tidak ada anggota keluarga yang menderita DM. Mereka mengatakan tidak paham tentang DM Tipe 1 dan cara perawatannya terutama setelah pulang dari rumahsakit. Orang tua khawatir memikirkan masa depan anaknya. Terapi instruksi medis yang diberikan saat ini : cek gula darah 2 kali/hari, insulin 2 unit dari U100 sebelum makan.
PERTEMUAN 1
STEP 1 Mengklarifikasi istilah atau konsep
Tanya : Umi : enuresis?
Jawab : Sandra : kencing tanpa disadari pada malam hari (ngompol)
STEP 2 Mendefinisika nmasalah
1. Zakiyah : kenapa luka pada diabetes militus itu sulit sembuh tidak seperti luka yang biasa?
2. Umi : kenapa orang diabetes militus mudah terkena flu?
3. fatma : kenapa anak menderita diabetes militus sedangkan pada keluarga tidak terdapat riwayat penyakit diabetes militus?
4. mustami : kenapa berat badannya menurun padahal makan dan minumnya banyak?
5. tria : mengapa pada pasien diabetes militus penglihatannya kabur?
6. umi : kenapa anak dengan diabetes militus mudah tersinggung dan sulit konsentrasi saat belajar?
7. Sandra : berapa nilai normal kadar glukosa pada anak-anak?
STEP 3 Menganalisis masalah
1. Evi : karena salah satu suplei oksigen yang sangat dibutuhkan jadi apabila penyakit DM suplei o2 nya terganggu
• Herlina : selain kebutuhan oksigen kebutuhan gizi pun sangat dibutuhkan dalam proses penyembuhan luka
2. Tria : karena pada pasien DM system kekebalan tubuhnya menurun makatidak dapat melawan serangan dari kuman / mikro badan akibatnya tidak bisa menahan diri dari penyakit
3. Mustami : faktor dari DM ini bukan dari hanya genetic tapi bisa juga terjadi karena faktor makanan, jika sering mengkonsumsi makanan yang tidak sehat seperti yang mengandung lemak tinggi dan memiliki kadar gula yang manis
4. Herlina : karena glukosa menarik air sehingga pasien dengan DM akan sering kencing atau poli urin dan akan merasa haus terus. Didalam urin yang dikeluarkan banyak yang kandungan yang keluar seperti elektrolit, natrium, klorida, kalsium dan fospot.
• Sri wahyuni : karena gula darah menumpuk dalam peredaran darah karena tidak dapat diangkut didalam sel untuk dijadikan sumber energy maka tubuh akan kekurangan bahan bakar sebagai sumber tenaga pasien terusakan merasa lapar dan meningkatkan asupan makanan
• Umi : penurunan berat badan terjadi karena glukosa yang menjadi sumber energy tidak diangkut didalam sel sehingga otak memerintahkan tubuh untuk memecah lemak dari jaringan otot menjadi energy proses inilah menjadi pasien kurus
5. Sandra : karena kadar glukosanya tinggi sehingga bisa menyebabkan kerusakan pada saraf-saraf diretina mata bisa menyebabkan retinopati sehingga terjadinya penglihatan kabur
• Evi : salah satu komplikasi dari DM ituneuropati = disebabkan oleh suplei o2 tidak lancer , apabila saraf tadi terganggu pada retina dimata menjadikan pasien tersebut penglihatannya kabur
6. Aprilia : pertama diakibatkan tuhubnya tidak mendapatkan energy yang cukup sehingga mempengaruhi konsentrasinya
7. Herlina : 70-150mg/dl
STEP 4 Menyusun urutan penjelasan masalah (Pertanyaan&Hipotesis)
1. Ketidakstabilan glukosa darah b.d Disfungsi pancreas d.d
DS : - lelah
- Haus
- sering kencing
DO : - Glukosa 300mg/dl
2. Ketidakseimbangan nutrisi dari kebutuhan tubuh b.d Faktor biologis d.d
DS : -pasien mengatakan BB menurun
DO : - BB 25,5kg
3. Defisiensi pengetahuan b.d Kurang informasi d.d
DS : - Orang tua mengatakan tidak paham tentang DM tipe 1 dan cara perawatannya setelah pulang kerumah
- Orang tua mengatakan bahwa mereka sangat terkejut dan tidak percaya ketika anaknya didiagnosis DM tipe 1, padahal tidak ada anggota keluarga yang menderita DM.
- Orang tua khawatir memikirkan masa depan anaknya
DO : -
4. Resiko infeksi b.d Penyakit kronis (diabetes militus) d.d
DS : - pasien mengatakan penglihatan kabur
DO : -
5. Resiko jatuh b.d Gangguan visual d.d
DS : - pasien mengatakan penglihatan kabur
DO : -
STEP 5 Menetapkan tujuan belajar
A. Pengertian
B. Penyebab
C. Patofis (Patway)
D. Tanda dan gejala
E. Komplikasi
F. Pecegahan
G. Penatalaksanaan
PERTEMUAN 2
STEP 6 Menuyusun Asuhan keperawatan
Diabetes Melitus Tipe 1
A. Pengertian
Diabetes mellitus tipe 1 dahulu disebut insulin-dependent diabetes (IDDM, diabetes yang bergantung pada insulin), dicirikan denganrusaknya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau langerhanssehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe inidapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Sampai saat ini diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah. Kebanyakan penderita diabetes tipe 1 memiliki kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini mulai dideritanya. Selain itu, sensitivitas maupun respons tubuh terhadap insulin umumnya normal pada penderita diabetes tipe ini, terutama pada tahap awal.
Penyebab terbanyak dari kehilangan sel beta pada diabetes tipe 1adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh.
B. Epimiodologi
Pada Diabetes Mellitus tipe 1 biasanya terdapat pada anak-anak dan remaja , salah satu penyebabnya adalah seringnya mengkonsumsi fast food. Ibu yang melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 kg juga berisiko mengalami Diabetes Mellitus.
Variasi siklik musiman dalam jangka lama terjadi pada insiden diabetes insipidus tergantung insulin. Kasus yang baru diketahui tampak lebih sering pada bulan-bulan musim semi dan musim dingin di belahan bumi uatara dan selatan.
Tabel 1. Prevalensi Kejadian Diabetes Mellitus di Beberapa Negara Tahun 2000
(FKM, Universitas Hasanuddin, Makassar, 2007)
No Rangking negara tahun 2000 Orang dengan DM (juta)
1. India 31,7
2. Cina 20,8
3. Amerika Serikat 17,7
4. Indonesia 8,4
5. Jepang 6,8
6. Pakistan 5,2
7. Federasi Rusia 4,6
8. Brazil 4,6
9. Italia 4,3
10. Banglades 3,2
C. Penyebab
a. Faktor genetic
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (human leucosite antigen). HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen transplantasi dan proses imun lainnya.
b. Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing, yaitu autoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
c. Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi sel beta.
D. Klasifikasi
Klasifikasi DM tipe 1, berdasarkan etiologi sebagai berikut :
Pada DM tipe I, dikenal 2 bentuk dengan patofisiologi yang berbeda.
1. Tipe IA, diduga pengaruh genetik dan lingkungan memegang peran utama untuk terjadinya kerusakan pankreas. HLA-DR4 ditemukan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan fenomena ini.
2. Tipe IB berhubungan dengan keadaan autoimun primer pada sekelompok penderita yang juga sering menunjukkan manifestasi autoimun lainnya, seperti Hashimoto disease, Graves disease, pernicious anemia, dan myasthenia gravis. Keadaan ini berhubungan dengan antigen HLA-DR3 dan muncul pada usia sekitar 30 – 50 tahun.
E. Patofisiologi
Diabetes tipe 1 disebabkan oleh infeksi atau toksin lingkungan yang menyerang orang dengan sistem imun yang secara genetis merupakan predisposisi untuk terjadinya suatu respon autoimun yang kuat yang menyerang antigen sel B pankreas. Faktor ekstrinsik yang diduga mempengaruhi fungsi sel B meliputi kerusakan yang disebabkan oleh virus, seperti virus penyakit gondok (mumps) dan virus coxsackie B4, oleh agen kimia yang bersifat toksik, atau oleh sitotoksin perusak dan antibodi yang dirilis oleh imunosit yang disensitisasi. Suatu kerusakan genetis yang mendasari yang berhubungan dengan replikasi atau fungsi sel B pankreas dapat menyebabkan predisposisi terjadinya kegagalan sel B setelah infeksi virus. Lagipula, gen-gen HLA yang khusus diduga meningkatkan kerentanan terhadap virus diabetogenik atau mungkin dikaitkan dengan gen-gen yang merespon sistem imun tertentu yang menyebabkan terjadinya predisposisi pada pasien sehingga terjadi respon autoimun terhadap sel-sel pulaunya (islets of Langerhans) sendiri atau yang dikenal dengan istilah autoregresi.
Diabetes tipe 1 merupakan bentuk diabetes parah yang berhubungan dengan terjadinya ketosis apabila tidak diobati. Diabetes ini muncul ketika pankreas sebagai pabrik insulin tidak dapat atau kurang mampu memproduksi insulin. Akibatnya, insulin tubuh kurang atau tidak ada sama sekali. Penurunan jumlah insulin menyebabkan gangguan jalur metabolik antaranya penurunan glikolisis (pemecahan glukosa menjadi air dan karbondioksida), peningkatan glikogenesis (pemecahan glikogen menjadi glukosa), terjadinya glukoneogenesis. Glukoneogenesis merupakan proses pembuatan glukosa dari asam amino , laktat , dan gliserol yang dilakukan counterregulatory hormone (glukagon, epinefrin, dan kortisol). Tanpa insulin , sintesis dan pengambilan protein, trigliserida , asam lemak, dan gliserol dalam sel akan terganggu. Aseharusnya terjadi lipogenesis namun yang terjadi adalah lipolisis yang menghasilkan badan keton.Glukosa menjadi menumpuk dalam peredaran darah karena tidak dapat diangkut ke dalam sel. Kadar glukosa lebih dari 180mg/dl ginjal tidak dapat mereabsorbsi glukosa dari glomelurus sehingga timbul glikosuria. Glukosa menarik air dan menyebabkan osmotik diuretik dan menyebabkan poliuria. Poliuria menyebabkan hilangnya elektrolit lewat urine, terutama natrium, klorida, kalium, dan fosfat merangsang rasa haus dan peningkatan asupan air (polidipsi). Sel tubuh kekurangan bahan bakar (cell starvation ) pasien merasa lapar dan peningkatan asupan makanan (polifagia).
Biasanya, diabetes tipe ini sering terjadi pada anak dan remaja tetapi kadang-kadang juga terjadi pada orang dewasa, khususnya yang non obesitas dan mereka yang berusia lanjut ketika hiperglikemia tampak pertama kali. Keadaan tersebut merupakan suatu gangguan katabolisme yang disebabkan karena hampir tidak terdapat insulin dalam sirkulasi, glukagon plasma meningkat dan sel-sel B pankreas gagal merespon semua stimulus insulinogenik. Oleh karena itu, diperlukan pemberian insulin eksogen untuk memperbaiki katabolisme, mencegah ketosis, dan menurunkan hiperglukagonemia dan peningkatan kadar glukosa darah.(Tandra,2007).
F. Pathway
G. Manifestasi Klinis
Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf.
Manifestasi klinis DM tipe 1 sama dengan manifestasi pada DM tahap awal, yang sering ditemukan :
a. Poliuri (banyak kencing)
Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing.
b. Polidipsi (banyak minum)
Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri, sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum.
c. Polifagia (banyak makan)
Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar). Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi walaupun klien banyak makan, tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah.
d. Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang.
Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh berusama mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein, karena tubuh terus merasakan lapar, maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan DM walaupun banyak makan akan tetap kurus.
e. Mata kabur
Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) yang disebabkan karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa, sehingga menyebabkan pembentukan katarak.
f. Ketoasidosis.
Anak dengan DM tipe-1 cepat sekali menjurus ke-dalam ketoasidosis diabetik yang disertai atau tanpa koma dengan prognosis yang kurang baik bila tidak diterapi dengan baik.
H. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi : pada DM tipe 1 didapatkan klien mengeluh kehausan, klien tampak banyak makan, klien tampak kurus dengan berat badan menurun, terdapat penutunan lapang pandang, klien tampak lemah dan mengalam penurunan tonus otot
Palpasi : denyut nadi meningkat, tekanan darah meningkat yang menandakan bahwa terjadinya hipertensi.
Auskultasi : adanya peningkatan tekanan darah
I. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dlakukan pada DM tipe 1 dan 2 umumnya tidak jauh berbeda.
a. Glukosa darah : meningkat 200-100mg/dL
b. Aseton plasma (keton) : positif secara mencolok
c. Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat
d. Osmolalitas serum : meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 mOsm/l
e. Elektrolit :
1. Natrium : mungkin normal, meningkat, atau menurun
2. Kalium : normal atau peningkatan semu ( perpindahan seluler), selanjutnya akan menurun.
3. Fosfor : lebih sering menurun
4. Hemoglobin glikosilat : kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal yang mencerminkan control DM yang kurang selama 4 bulan terakhir ( lama hidup SDM) dan karenanaya sangat bermanfaat untuk membedakan DKA dengan control tidak adekuat versus DKA yang berhubungan dengan insiden ( mis, ISK baru)
5. Gas Darah Arteri : biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada HCO3 ( asidosis metabolic) dengan kompensasi alkalosis respiratorik.
6. Trombosit darah : Ht mungkin meningkat ( dehidrasi) ; leukositosis : hemokonsentrasi ;merupakan respon terhadap stress atau infeksi.
7. Ureum / kreatinin : mungkin meningkat atau normal ( dehidrasi/ penurunan fungsi ginjal)
8. Amilase darah : mungkin meningkat yang mengindikasikan adanya pancreatitis akut sebagai penyebab dari DKA.
9. Insulin darah : mungkin menurun / atau bahka sampai tidak ada ( pada tipe 1) atau normal sampai tinggi ( pada tipe II) yang mengindikasikan insufisiensi insulin/ gangguan dalam penggunaannya (endogen/eksogen). Resisten insulin dapat berkembang sekunder terhadap pembentukan antibody . ( autoantibody)
10. Pemeriksaan fungsi tiroid : peningkatan aktivitas hormone tiroid dapat meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.
11. Urine : gula dan aseton positif : berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat.
12. Kultur dan sensitivitas : kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih, infeksi pernafasan dan infeksi pada luka.
J. Kriteria Diagnostik
Diagnosis didapatkan dari anamnesis, gejala klinis, serta data laboratorium, dengan kriteria data lab:
Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl)
Bukan DM Belum pasti DM DM
Kadar glukosa darah sewaktu:
1. Plasma vena
2. Darah kapiler
< 100
< 80
100 – 200
80 – 200
>200
>200
Kadar glukosa darah puasa:
1. Plasma vena
2. Darah kapiler
< 110
< 90
110 – 120
90 – 110
>126
>110
Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :
a. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
b. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
c. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl
K. Diagnosa Banding
Produksi berlebihan glukokortikoid atau katekolamin pada :
1. Tumor hipotalamus atau hipofisis
2. Tumor atau hiperplasia adrenal
3. Renal glukosuria (Pada keadaan ini didapatkan glukosuria tanpa hiperglikemia maupun ketosis)
4. Feokromositoma (Pada keadaan ini didapatkan uji toleransi glukosa yang abnormal dan glukosuria tanpa ketosis, yang disebabkan oleh peningkatan glikogenolisis dan glukoneogenesis).
L. Penatalaksanaan
Ada enam cara dalam penatalaksanaan DM tipe 1 meliputi:
Pemberian insulinYang harus diperhatikan dalam pemberian insulin adalah jenis, dosis, kapan pemberian, dan cara penyuntikan serta penyimpanan. Terdapat berbagai jenis insulin berdasarkan asal maupun lama kerjanya, menjadi kerja cepat/rapid acting, kerja pendek(regular/soluble), menengah, panjang, dan campuran.
a. Cara pemberian /penyuntikan hormone insulin
1. Indikasi dan kontra indikasi pemberian /penyuntikan hormone insulin.
2. Efek samping pemberian / penyuntikan hormone insulin.dll
3. Suntikan insulin untuk pengobatan diabetes dinamakan terapi insulin.
b. Tujuan terapi ini terutama untuk :
1. Mempertahankan glukosa darah dalam kadar yang normal atau mendekati normal.
2. Menghambat kemungkinan timbulnya komplikasi kronis pada diabetes.
3. Keberhasilan terapi insulin juga tergantung terhadap gaya hidup seperti program diet dan olahraga secara teratur
c. Indikasi penggunaan terapi insulin harus memenuhi kriteria di bawah ini :
1. Menggunakan insulin lebih dari 3 kali sehari
2. Kadar glukosa darah sering tidak teratur
3. Ingin mengurangi resiko hipoglikemi
4. Ingin mengurangi resiko komplikasi yang berkelanjutan
5. Ingin lebih bebas beraktifitas dan gaya hidup yang lebih fleksibel
d. Enam tipe insulin berdasarkan mulai kerja, puncak, dan lama kerja insulin tersebut, yakni :
1. Insulin Keja Cepat (Short-acting Insulin)
2. Insulin Kerja Sangat Cepat (Quick-Acting Insulin)
3. Insulin Kerja Sedang (Intermediate-Acting Insulin)
4. Mixed Insulin
5. Insulin Kerja Panjang (Long-Acting Insulin)
6. Insulin Kerja Sangat Panjang (Very Long Acting Insulin)
e. Cara Pemberian Insulin
Struktur kimia hormon insulin bisa rusak oleh proses pencernaan sehingga insulin tidak bisa diberikan melalui tablet atau pil. Satu-satunya jalan pemberian insulin adalah melalui suntikan, bisa suntikan di bawah kulit (subcutan/sc), suntikan ke dalam otot (intramuscular/im), atau suntukan ke dalam pembuluh vena (intravena/iv). Ada pula yang dipakai secara terus menerus dengan pompa (insulin pump/CSII) atau sistem tembak (tekan semprot) ke dalam kulit (insulin medijector).
Dosis anak bervariasi berkisar antara 0,7-1,0 U/kg per hari. Dosis insulin ini berkurang sedikit pada adanya fase remisi yang dikenal sebagai honeymoon periode dan kemudian meningkat pada saat pubertas.
Saat awal pengobatan insulin diberikan 3-4 kali injeksi. Bila dosis optimal dapat diperoleh, diusahakan untuk mengurangi jumlah suntikan menjadi 2 kali dengan menggunakan insulin kerja mengengah atau kombinasi kerja pendekb dan menengah (split-mix regimen). Penyuntikan setiap hari secara subkutan dipaha, lengan atas, sekitar umbilicus secara bergantian. Insulin sebaiknya disimpan dalam lemari es pada suhu 4-80C.
f. Pengaturan makan/diet
Jumlah kebutuhan kalori untuk anak usia 1 tahun sampai dengan usia pubertas dapat juga ditentukan dengan rumus sebagai berikut :
1. 1000 + (usia dalam tahun x 100) = ……. Kalori/hari
2. Komposisi sumber kalori per hari sebaiknya terdiri atas : 50-55% karbohidrat, 10-15% protein (semakin menurun dengan bertambahnya umur), dan 30-35% lemak.
3. Pembagian kalori per 24 jam diberikan 3 kali makanan utama dan 3 kali makanan kecil sebagai berikut :
a. 20% berupa makan pagi.
b. 10% berupa makanan kecil.
c. 25% berupa makan siang.
d. 10% berupa makanan kecil.
e. 25% berupa makan malam.
f. 10% berupa makanan kecil.
Dari sisi makanan penderita diabetes atau kencing manis lebih dianjurkan mengkonsumsi karbohidrat berserat seperti kacang-kacangan, sayuran, buah segar seperti pepaya, kedondong, apel, tomat, salak, semangka dll. Sedangkan buah-buahan yang terlalu manis seperti sawo, jeruk, nanas, rambutan, durian, nangka, anggur, tidak dianjurkan.
Menurut peneliti gizi asal Universitas Airlangga, Surabaya, Prof. Dr. Dr. H. Askandar Tjokroprawiro, menggolongkan diet atas dua bagian, A dan B. Diet B dengan komposisi 68% karbohidrat, 20% lemak, dan 12% protein, lebih cocok buat orang Indonesia dibandingkan dengan diet A yang terdiri atas 40 – 50% karbohidrat, 30 – 35% lemak dan 20 – 25% protein. Diet B selain mengandung karbohidrat lumayan tinggi, juga kaya serat dan rendah kolesterol. Berdasarkan penelitian, diet tinggi karbohidrat kompleks dalam dosis terbagi, dapat memperbaiki kepekaan sel beta pankreas.
4. Serat makanan
Tipe diet ini berperan dalam penurunan kadar total kolesterol dan LDL (low-density lipoprotein) kolesterol dalm darah. Peningkatan kandungan serat dalam diet dapat pula memperbaiki kadar glukosa darah sehingga kebutuhan insulin dari luar dapat dikurangi.
Mekanisme kerja serat terlarut diperkirakan berhubungan dengan pembentukan gel dalam traktus gastrointestinal. Gel ini akan memperlambat pengosongan lambung dan gerakan makanan yang melalui saluran cerna bagian atas. Efek penurunan glukosa yang potensial oleh serat makanan tersebut mungkin disebabkan oleh kecepatan absorpsi glukosa yang lebih lambat.
Sementara itu tingginya serat dalam sayuran jenis A(bayam, buncis, kacang panjang, jagung muda, labu siam, wortel, pare, nangka muda) ditambah sayuran jenis B (kembang kol, jamur segar, seledri, taoge, ketimun, gambas, cabai hijau, labu air, terung, tomat, sawi) akan menekan kenaikan kadar glukosa dan kolesterol darah. Bawang merah dan putih (berkhasiat 10 kali bawang merah) serta buncis baik sekali jika ditambahkan dalam diet diabetes karena secara bersama-sama dapat menurunkan kadar lemak darah dan glukosa darah.
5. Alkohol
Alkohol dapat menurunkan reaksi fisiologi normal dalam tubuh yang memproduksi glukosa (glukoneogenesis). Jadi, jika seorang penderita diabetes minum minuman beralkohol pada saat lambung kosong, maka kemungkinan terjadinya hipoglikemia akan meningkat. Konsumsi alcohol yang berlebihan dapat menggganggu kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi serta mengatasi keadaan hipoglikemia dengan tepat dan mengikuti rencana makan yang sudah diresepkan untuk mencegah hipoglikemian.
6. Olahraga
Dianjurkan latihan jasmani teratur 3-4 kali tiap minggu selam kurang lebih 30 menit yang sifatnya sesuai CRIPE (Continous Rytmical Interval Progressive Endurance Training). Latihan yang dapa dijadikan pilihan adalah jalan kaki, jogging, lari, renang, dan bersepeda.
7. Obat hipoglikemik oral (OHO)
Jika pasien telah melakukan pengturan makan dan kegiatan jasmani yang teratur, tetapi kadar glukosa darahnya masih belum baik, dipertimbangkan pemakaian obat berhasiat hipoglikemik.
a. Sulfoniurea
Berfungsi untuk menstimulasin pelepasan insulin yang tersimpan, menurunkan ambang sekresi insulin, meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa.
b. Biguanid
Menurunkan kadar glukosa darah tapi tidak sampai di bawah normal. Dianjurkan untuk pasien gemuk.
c. Inhibitor α glukosidase
Bersifat kompetitif menghambat kerja enzim α glukosidase sehingga menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan hiperglikemia pascaprandial.
d. Insulin sentizing agent
Berfungsi meningkatkan sensitifitas insulin tanpa menyebabkan hipoglikemia.
e. Edukasi
Kegiatan edukasi meliputi pemahaman dan pengertian penyakit dan komplikasinya, memotivasi penderita dan keluarga agar patuh berobat.
f. Pemantauan mandiri/home monitoring
Pasien serta keluarga harus dapat melakukan pemantauan kadar glukosa darah dan penyakitnya di rumah. Halini sangat diperlukan karenasangat menunjang upaya pencapaian normoglikemia. Pamantauan dapat dilakukan secara langsung (darah) dan secara tidak langsung (urin).
M. Komplikasi
Komplikasi DM baik pada DM tipe 1 maupun 2, dapat dibagi menjadi2 kategori, yaitu komplikasi akut dan komplikasi menahun.
a. Komplikasi Metabolik Akut
1. Ketoasidosis Diabetik (khusus pada DM tipe 1)
Apabila kadar insulin sangat menurun, pasien mengalami hiperglikemi dan glukosuria berat, penurunan glikogenesis, peningkatan glikolisis, dan peningkatan oksidasi asam lemak bebas disertai penumpukkan benda keton, peningkatan keton dalam plasma mengakibatkan ketosis, peningkatan ion hidrogen dan asidosis metabolik. Glukosuria dan ketonuria juga mengakibatkan diuresis osmotik dengan hasil akhir dehidasi dan kehilangan elektrolit sehingga hipertensi dan mengalami syok yang akhirnya klien dapat koma dan meninggal
2. Hipoglikemi
Seseorang yang memiliki Diabetes Mellitus dikatakan mengalami hipoglikemia jika kadar glukosa darah kurang dari 50 mg/dl. Hipoglikemia dapat terjadi akibat lupa atau terlambat makan sedangkan penderita mendapatkan therapi insulin, akibat latihan fisik yang lebih berat dari biasanya tanpa suplemen kalori tambahan, ataupun akibat penurunan dosis insulin. Hipoglikemia umumnya ditandai oleh pucat, takikardi, gelisah, lemah, lapar, palpitasi, berkeringat dingin, mata berkunang-kunang, tremor, pusing/sakit kepala yang disebabkan oleh pelepasan epinefrin, juga akibat kekurangan glukosa dalam otak akan menunjukkan gejala-gejala seperti tingkah laku aneh, sensorium yang tumpul, dan pada akhirnya terjadi penurunan kesadaran dan koma.
b. Komplikasi Vaskular Jangka Panjang (pada DM tipe 1 biasanya terjadi memasuki tahun ke 5)
1. Mikroangiopaty merupakan lesi spesifik diabetes yang menyerang kapiler dan arteriola retina (retinopaty diabetik), glomerulus ginjal (nefropatik diabetic/dijumpai pada 1 diantara 3 penderita DM tipe-1), syaraf-syaraf perifer (neuropaty diabetik), otot-otot dan kulit. Manifestasi klinis retinopati berupa mikroaneurisma (pelebaran sakular yang kecil) dari arteriola retina. Akibat terjadi perdarahan, neovasklarisasi dan jaringan parut retina yang dapat mengakibatkan kebutaan. Manifestasi dini nefropaty berupa protein urin dan hipetensi jika hilangnya fungsi nefron terus berkelanjutan, pasien akan menderita insufisiensi ginjal dan uremia. Neuropaty dan katarak timbul sebagai akibat gangguan jalur poliol (glukosa—sorbitol—fruktosa) akibat kekurangan insulin. Penimbunan sorbitol dalam lensa mengakibatkan katarak dan kebutaan. Pada jaringan syaraf terjadi penimbunan sorbitol dan fruktosa dan penurunan kadar mioinositol yang menimbulkan neuropaty. Neuropaty dapat menyerang syaraf-syaraf perifer, syaraf-syaraf kranial atau sistem syaraf otonom.
2. Makroangiopaty Gangguan-gangguan yang disebabkan oleh insufisiensi insulin dapat menjadi penyebab berbagai jenis penyakit vaskuler. Gangguan ini berupa :
a. Penimbunan sorbitol dalam intima vascular.
b. Hiperlipoproteinemia
c. Kelainan pembekun darah
Pada akhirnya makroangiopaty diabetik akan mengakibatkan penyumbatan vaskular jika mengenai arteria-arteria perifer maka dapat menyebabkan insufisiensi vaskular perifer yang disertai Klaudikasio intermiten dan gangren pada ekstremitas. Jika yang terkena adalah arteria koronaria, dan aorta maka dapat mengakibatkan angina pektoris dan infark miokardium. Komplikasi diabetik diatas dapat dicegah jika pengobatan diabetes cukup efektif untuk menormalkan metabolisme glukosa secara keseluruhan.
N. Prognosis
DM tipe 1 merupakan penyakit kronik yang memerlukan pengobatan seumur hidup. DM tipe 1 tidak bisa disembuhkan tetapi kualitas hidup penderita dapat dipertahankan seoptimal mungkin dengan mengusahakan control metabolic yang baik. Yang dimaksud control metabolic yang baik adalah mengusahakan kadar glukosa darah berada dalam batas normal atau mendekati nilai normal, tanpa menyebabkan hipoglikemia.
Sekitar 60 % pasien DMT1 yang mendapat insulin dapat bertahan hidup seperti orang dapat mengalami kebutaan, gagal ginjal kronik, dan kemungkinan untuk meninggal lebih cepat.Anak dengan DM tipe-1 cepat sekali menjurus ke-dalam ketoasidosis diabetik yang disertai atau tanpa koma dengan prognosis yang kurang baik bila tidak diterapi dengan baik. Oleh karena itu, pada dugaan DM tipe-1, penderita harus segera dirawat inap, Prognosis ditentukan oleh regulasi DM dan adanya komplikasi. Regulasi teratur dan baik akan memberikan prognosis baik.
ASUHAN KEPERAWATAN
A. KLASIFIKASI DATA
DS :
- anak mengatakan banyak makan, minum, dan kencing, Berat badan menurun, mudah tersinggung, merasa lelah, tidak bisa perhatian lama saat mengikuti pelajaran di sekolah, penglihatan kabur, sakit kepala, mudah terserang flu, luka sukar sembuh
- Orang tua mengatakan tidak paham tentang DM tipe 1 dan cara perawatannya setelah pulang kerumah
- Orang tua khawatir memikirkan masa depan anaknya
- Orang tua mengatakan bahwa mereka sangat terkejut dan tidak percaya ketika anaknya didiagnosis DM tipe 1, padahal tidak ada anggota keluarga yang menderita DM.
DO :
- BB 25,5 kg
- PB 135 cm
- Kulit kering- glukosa darah 300 mg/Dl
B. ANALISA DATA
no Data Masalah Etiologi
1 DS : - lelah
- Haus
- sering kencing
DO : - Glukosa 300mg/dl
Ketidakstabilan glukosa darah Disfungsi pankreas
2 DS : -pasien mengatakan BB menurun
DO : - BB 25,5kg Ketidakseimbangan nutrisi dari kebutuhan tubuh Faktor biologis
3 DS : - Orang tua mengatakan tidak paham tentang DM tipe 1 dan cara perawatannya setelah pulang kerumah
- Orang tua mengatakan bahwa mereka sangat terkejut dan tidak percaya ketika anaknya didiagnosis DM tipe 1, padahal tidak ada anggota keluarga yang menderita DM.
- Orang tua khawatir memikirkan masa depan anaknya
DO : - Defisiensi pengetahuan Kurang informasi
4 DS : - pasien mengatakan penglihatan kabur
DO : - Resiko jatuh Gangguan visual
5 DS : - pasien mengatakan mudah terserang flu dan luka sukar sembuh
DO : - glukosa darah 300 mg/dL Resiko infeksi Penyakit kronis (diabetes militus)
C. PRIORITAS MASALAH
1. Ketidakstabilan glukosa darah b.d Disfungsi pancreas
2. Ketidakseimbangan nutrisi dari kebutuhan tubuh b.d Faktor biologis
3. Defisiensi pengetahuan b.d Kurang informasi
4. Resiko infeksi b.d Penyakit kronis (diabetes militus)
5. Resiko jatuh b.d Gangguan visual
no Diagnosa Rencana Keperawatan
NOC NIC
1 Ketidakstabilan glukosa darah b.d Disfungsi pancreas d.d
DS : - lelah
- Haus
- sering kencing
DO : - Glukosa 300mg/dl
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pasien menunjukan glukosa darah dengan kriteria hasil
- Glukosa darah di tingkatkan ke skala 3
Menunjukan keparahan hiperglikemia dengan kriteria hasil
- Kelelahan ditingkatkan skala 3
- Peningkatan haus ditingkatkan skala 3
- Peningkatan urin output di tingkatkan di skala 3 Manajemen hiperglikemi
1. Monitor kadar glukosa darah 2x/hari
2. Monitor tanda dan gejala hiperglikemi, poliurin, kelemahan, polifagi, pandangan kabur, sakit kepala
3. Berikan insulin 2 unit dari U100 sebelum makan
4. Indentifikasi kemungkinan penyebab hiperglikemi
5. Konsultasikan ke dokter tanda dan gejala hiperglikemi yang menetap atau membunuh
2 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Faktor biologis d.d
DS :
- pasien mengatakan BB menurun
DO : - BB 25,5kg
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pasien menunjukan status nutrisi dengan kriteria hasil :
- Rasio BB/TB di pertahankan di skala 2
- Asupan gizi di tingkatkan skala 5
Bantuan meningkatkan berat badan
1. Timbang BB pasien pada jam yang sama setiap hari
2. Monitor asupan kalori
3. Gambarkan dalam grafik mengenai kenaikan berat badan pasien dan buat rencana yang sesuai
4. Berikan makanan yang sesuai dengan instruksi dokter : diit DM
Manajemen berat badan
1. Hitung berat badan ideal pasien
2. Diskusikan dengan pasien mengenai kondisi medis yang berpengaruh terhadap berat badan
3. Kaji motivasi pasien untuk mengubah pola makan nya
3 Defisiensi pengetahuan b.d Kurang informasi d.d
DS : - Orang tua mengatakan tidak paham tentang DM tipe 1 dan cara perawatannya setelah pulang kerumah
- Orang tua mengatakan bahwa mereka sangat terkejut dan tidak percaya ketika anaknya didiagnosis DM tipe 1, padahal tidak ada anggota keluarga yang menderita DM.
- Orang tua khawatir memikirkan masa depan anaknya
DO : -
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan pasien menunjukan pengetahuan : Manajemen diabetes militus dengan kriteria hasil
1. Faktor-faktor penyebab dan faktor yang berkontribusi dengan skala 4
2. Tanda dan gejala awal penyakit dengan skala 4
3. Peran diet dalam mengontrol kadar glukosa darah dengan skala 4
4. Rencana makan yang dianjurkan dengan skala 4
5. Strategi untuk meningkatkan kepatuhan diet dengan skala 4
6. Penggunaan insulin yang benar dengan skala 5
7. Pencegahan hipoglikemi dengan skala 4 Pengajaran : proses penyakit
1. Kaji tingkat pengetahuan keluarga terkait dengan proses penyakit DM tipe 1
2. Jelaskan kepada keluarga tentang proses penyakit DM tipe 1 (penyebab, tanda gejala dll)
Pengajaran peresepan diet
1. Kaji tingkat pengetahuan pasien mengenai diet yang disarankan
2. Kaji pasien dan keluarga mengenai pandangan, kebudayaan, dan faktor lain yang mempengaruhi kemauan pasien dalam mengikuti diet yang disarankan
3. Ajarkan pasien nama nama makanan yang sesuai dengan diet yang disarankan
4. Jelaskan kepada pasien mengenai tujuan kepatuhan terhadap diet yang disarankan terkait kesehatan secara umum.
4 Resiko infeksi b.d Penyakit kronis (diabetes militus) d.d
DS : pasien mengatakan mudah terserang flu dan luka sukar sembuh
DO : glukosa darah 300 mg/dL Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pasien menunjukan Control resiko : proses infeksi dengan kriteria hasil :
1. Mengidentifikasi faktor resiko infeksi ditingkatkan keskala 4
2. Mengidentifikasi tandan dan gejala infeksi ditingkatkan skala 4
3. Memonitor faktor dilingkungan yang berhubungan dengan resiko infeksi ditingkatkan skala 4
Control infeksi
1. Ajarkan pasien dan keluarga mengenai tanda dan gejala infeksi dan kapan harus melaporkannya kepada tenaga kesehatan
2. Ajarkan pasien dan anggota keluarga mengenai bagaimana menghindari infeksi.
5 Resiko jatuh b.d Gangguan visual d.d
DS : pasien mengatakan penglihatan kabur
DO : -
Fungsi sensori : penglihatan
1. Pandangan kabur dengan skala 4
2. Sakit kepala dengan skala 5
Pencegahan jatuh
1. Identifikasi perilaku dan faktor yang mempengaruhi resiko jatuh
2. Ajarkan pasien bagaimna jika jatuh, untuk meminimalkan cidera
3. Sediakan pencahayaan yang cukup dalam rangka meningkatkan pandangan
4. Instruksikan keluarga akan pentingnya pegangan tangan untuk tangga kamar mandi dan jalur untuk berjalan
5. Berikan penanda untuk memberikan peringatan pada staf bahwa pasien beresiko tinggi jatuh
6. Ajarkan anggota keluarga mengenai faktor resiko yang berkontribusi terhadap adanya kejadian jatuh dan bagaimana keluarga bisa menurunkan resiko ini
DAFTAR PUSTAKA
Pratiwi, Andi Diah. 2007. Epidemiologi, Program Penanggulangan, dan Isu Mutakhir Diabetes Mellitus.http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2007/12/10/epidemiologi-dm-dan-isu-mutakhirnya/. (Akses 17 Maret 2010)
Carpenito, Lynda Juall. 1992. Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis, Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Faizi, Mohamad. 2010. Diabetes Tipe 1. http:// www. pediatrik.com/ 2010/02/diabetestipe1. html. (Akses 17 Maret 2010)
Komentar
Posting Komentar